Perkakas ‹ Spagnum18′s Blog — WordPress

Perkakas ‹ Spagnum18′s Blog — WordPress.

Ketahanan Negara dengan Pengenalan Budaya Indonesia

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Oleh : Moh. Alfathollah

Menurut konentjaraningrat kebudayaan adalah keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil karya manusia, dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang dijadikan milik manusia seperti hasil belajar. Karena itu wujud kebudayaan ada tiga macam. Pertama sebagai kompleksitas ide, gagasan, nilai-nilai, norma, dan pertauran, kedua sebagai kompleksitas aktivitas serta tindakan yang berpola dari manusia dalam masyarakat dan yang ketiga adalah kompleksitas benda-benda hasil karya manusia.

Kebudayaan pada masa lampau dapat sampai pada kita melalui peninggalan, baik berupa benda-benda maupun kerohanian. Yang berupa benda-benda dapat langsung diteliti dan diselidiki karena sifatnya yang kongkret. Namun yang berupa kerohanian, seperti alam pikiran, filsafat, dan sastra, hanya dapat diketahui jika kita berhubungan dengan pemilik atau pendukung kebudayaan tersebut. kebudayaan rohani diturunkan kepada kita ada yang melewati tulisan dan lisan.

Indonesia mempunyai kebudayaan yang khas dan tidak sama dengan negara lainnya. Kebudayaan itu sudah tumbuh sejak ribuan tahun yang lalu. Hingga sampai saat ini kebudayaan tersebut masih lestari meskipun sudah ada pergeseran budaya.

Di dunia ini tidak ada suatu kebudayaan yang maisih murni tanpa ada pengaruh budaya lain dan akulturasi, meskipun ada budaya yang masih murni itupun tidak akan lebih dari lima persen. Kebudayaan selalu berkembang sesuai pergeseran zaman. Bangsa yang maju banyak mengambil peran dalam mewarnai budaya-budaya di berbagai belahan bumi. Akulturasi budaya sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu hingga kita sulit membedakan asal mula buday itu (origin culture).

Perubahan tatanan social maupun nilai-nila dapat berubah karena adanya factor internal (internal forces) maupun factor internal (eksternal forces).

Factor internal terjadi karena perkembangan cara berfikir masyarakat, manusia di takdirkan sebagai mahluk yang paling tinggi derajatnya diantara makhluk yang lainnya. Kedudukan sebagai makhluk yang berakal bukan tanpa alasan menempati derajat paling tinggi. Hal ini berkat kemampuanya mengembangkan dan menggunakan lambang (bahasa). Dengan lambang itulah manusia dapat mampu saling berkomunikasi, tukar menukar gagasan, menyusun pengalaman dan mengembangkan pengetahuan. Cara berfikir yang di setujui oleh kalangan masyarakat akan menjadi sebuah nilai yang nantinya akan menjadi suatu kebudayaan.

Factor ekternal, setiap bangsa yang maju di bidang ekonomi, kebudayaan, tekhnologi, dan infrastuktur akan menjadi banyak mewarnai kebudayaan bangsa lainya yang ada di bawahnya. Bangsa yang ekonominya masih rendah sedikit banyak akan dipengaruhi oleh bangsa yang ada diatasnya. Inilah yang menjadi pergolakan besar diantara masyarakat negera berkembang.

Indonesia adalah Negara yang terletak di asia tenggara. Negara Indonesia di berbagai aspek masih rendah seperti perkembang ekonomi yang morat-marit bahkan cenderung stagnan begitu jaga dalam pendidikan dan tekhnologinya. Sehingga Indonesia disebut dengan Negara berkembang.

Negera berkembang cenderung gampang untuk dipengaruhi oleh Negara-negara maju seperti amerika, jepang, rusia, inggris dan cina. Entah itu dibidang ekonomi, tekhnologi dan lebih parahnya jika budaya yang sejak ribuan tahun yang lalu muncul dari nenek moyang kita juga ikut tergerus. Memang budaya yang ada sekarang ini bukanlah budaya asli orang Indonesia tapi sudah hasil akulturasi sejak ratusan tahun silam dan dalam perkembangannya diakui sebagai budaya Indonesia. Akulturasi budaya di Indonesia menghasilkan suatu budaya yang khas yang tidak sama dengan budaya aslinya (origin culture). Semisal akulturasi budaya hindu dengan jawa maupun bali, budaya yang ada di Indonesia tidak akan pernah sama dengan budaya asal hindu yakni india. Dan itu menjadi khas milik bangsa Indonesia.

Pertukaran budaya terus berjalan hingga sampai saat ini seperti aliran air yang mengalir di sungai, begitu dinamis. Khazanah budaya Indonesia saat ini begitu mencemaskan banyak di antara kebiasaan masyarakat yang sebetulnya sudah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu sekarang mulai di tinggalkan baik yang berupa nilai-nilai social maupun kesenian. Masyarakat kita, terutama anak muda lebih tertarik mempelajari budaya luar seperti budaya amerika dan jepang dari pada budaya Indonesia.

Tidak hanya tentang nilai-nilai di dalam masyarakat tapi juga dalam memilih kesenian yang akan di pelajari. Anak-anak muda banyak yang lebih tertarik mempelajari guitar, piano dan drum dari pada belajar angklung. Ironis sekali karena mereka menganggap kesenian itu sudah ketinggalan zaman dan tidak layak dipelajari.

Perubahan budaya memang tidak bisa kita hindari. Namun jika masyarakat Indonesia tidak menghargai budayanya sendiri dan tidak mau mempelajarinya maka kecintaan terhadap ibu pertiwi semakin berkurang dan pada akhirnya mereka lebih mencintai Negara lain dibandingkan Negara sendiri.

Nilai-nilai yang ada di masyarakat penurunannya cukup drastis, hal ini terjadi karena orang menganggap apabila mereka melakukan perbuatan seperti bangsa-bangsa luar mereka menggap dirinya sudah maju. Dan itu menjadi trend di tengah-tengah masyarakat Indonesia, misalnya dalam berpakaian. Semakin menampakan bagian-bagian tubuhnya semakin maju atau semakin modern orang itu. Padahal budaya seperti itu adalah efek budaya tidak benar dalam penilai kaca mata Indonesia.

Kecintaan bangsa Indonesia kepada bangsa lain akan menyebabkan pertahanan bela negera akan rapuh. Karena mereka menganggap kebudayaan Indonesia tidak dapat bersaing di kancah internasional. Padahal banyak orang asing yang datang ke indonesia untuk belajar kebudayaan karena mereka tertarik kepada khazanah kebudayaan Indonesia yang begitu heterogen. Namun ini tidak bisa dimanfaatkan oleh warganya sendiri, malah mereka menganggap remeh hal itu.

Pengenalan budaya dan seni Indonesia maupun daerah harus diajarkan kepada tunas bangsa sejak masih usia anak-anak. Karena di usia ini mereka masih belum terkena pengaruh-pengaruh dari luar. Memasukan pelajaran kebudayaan dan kesenian daerah dalam kurikulum pendidikan mutlak dilakukan oleh pemerintah. Seperti yang telah dilkukan oleh pemkab ponorogo yang memasukan kesenian reog ke dalam muatan local dan itu merata di semua jenjang pendidikan dari pendidikan TK hingga SMA.

Jadi anak muda yang ada di ponorogo sudah mengenal kesenian daerahnya yang sudah ratusan tahun yang lalu mengakar hingga samapi saat ini. Mungkin masih sangat kental dalam ingatan kita saat kesenian reog di klaim milik Negara Malaysia. Masyarakat ponorogo berbondong-bondong turun kejalan memprotes Malaysia karena telah menampilkan seni reog di negaranya dan mengaku mengklaim bahwa seni reog adalah milik Malaysia juga. Perjuangan masyarakat ponorogo tidak sia-sia. Hingga saat ini orang Malaysia tidak berani lagi mengatakan bahwa reog adalah miliknya.

Ini adalah usaha kita untuk mengembangkan dan menjaga kebudayaan indonesia agar dapat bersaing di kancah global, dan kita tidak terseret ke pada budaya luar yang belum tentu sesuai dengan budaya Indonesia. Jika budaya itu baik mungkin kita bisa mendukungnya tapi kalau budaya tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat kita maka tentunya harus kita tolak, agar tidak terjadi pergolakan di tengah-tengah masyarakat kita.

Contoh aksi dari masyarakat ponorogo diatas adalah bentuk pertahanan bela Negara. Ini harus di jadikan contoh oleh daerah lain. Agar bangsa indonesi cinta kepada bangsa sendiri, baik itu dalam budayanya maupun terhadap negaranya. Oleh karena itu pengenalan terhadap budaya melalui pendidikan mutlak di perlukan.

Koreksi Soal Multiple Choice

Tidak salah jika peserta didik yang mencontek hasil ujian temannya disebut cikal-bakal koruptor, hal ini dipermudah dengan model soal multiple choice, mungukin saja siswa atau mahasiswa mendapatkan nilai yang baik dengan hanya satu kali melirik sudah mendapatkan jawaban lebih dari satu jawaban, soal pilihan ganda mempermudah para pencontek untuk mendapatkan jawaban.
Disamping itu banyak pelajar yang sebenarnya mampu dalam mata pelajaran tersebut sering kecolongan karena pilihan jawabanya yang hampir sama, secara sustansi pilihan jawaban hanya ada dua yaitu salah dan benar, dengan perbandingan empat banding satu, keempat opsinya salah semua hanya satu jawaban yang benar. Tidak jarang kelima-limanya jawabanya adalah benar , hanya diperintah untuk mencari jawaban yang paling benar.
Ada beberapa kelemahan pada soal pilihan ganda, pertama, ujian dengan menggunakan soal pilihan ganda tidak mampu mengukur kreatifitas pelajar dalam menjawab soal, padahal masing-masing siswa mempunyai daya kreatifitas yang berbeda, dengan demikian kreatifitas siswa tidak lagi menjadi pertimbangan guru untuk menaikan nilai ujian.
Kedua, soal pilahan ganda tidak bisa memberikan gambaran bahwa siswa tersebut mempunyai nalar yang tinggi atau tidak, siswa yang mempunyai penalaran yang baik akan mampu menjawab soal segamblang mungkin dengan akurasi jawaban yang tepat, sedangkan siswa yang tidak mampu dalam penalaaran akan menjawab apa adanya,
Sebetulnya masih banyak kekurangan penerapan soal multiple choise, namun gambaran diatas bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk beralih kepada soal urayan, atau kita masih berkutat pada postulat soal yang jelas-jelas tidak bisa dijadikan barometer penilaian.
Soal dengan jawaban urayan lebih menjanjikan dan mengena sasaran, hanya karena mungkin pera guru melas mengoreksi jawaban yang berbentuk essay.

Hello world!

Menjunjung PBKL

 

Sekolah kita, SMANJ@, adalah salah satu sekolah bonafit, yang mungkin mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Bisa dilihat, kurikulum yang diterapkan di SMANJ@ adalah kurikulum PBKL (Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal). Bisa dibayangkan dari sekian ribu sekolah yang tersebar di seluruh Nusantrara hanya 60 sekolah yang mendapatkan kurikulum PBKL, termasuk SMANJ@. Sangat luar biasa! kurikulum berbasis keunggulan lokal sudah lama diterapkan dinegara maju, Australia misalnya. Diharapkan dengan memberian PBKL kepada daerah yang memang memiliki potensi secara geologis dapat mengeksploitasi keunggulan yang ada di daerahnya.

Misalnya, lembaga pendidikan yang terletak di daerah pegunungan, maka diberikanlah pendidikan yang terkait dengan pengolahan hasil pertanian, begitu pula lembaga pendidikan yang berdampingan dengan laut, diterapkan pendidikan yang berhubungan dengan pengolahan hasil laut secara maksimal dan mempunyai nilai ekonomis tinggi.

Sangat rasional jika pemerintah menerapkan PBKL pada sekolah-sekolah tertentu, mengingat Indonesia mempunyai ragam kebudayaan dan daerah yang secara geologis sangat bermacam-macam.

Dibanding dengan Australia, kita lebih diunggulkan dalam pengembangan PBKL. Tidak lain adalah faktor geologis masing-masing daerah yang berbeda. Sehingga ilmuan botani Jerman, A.R Wallace, sempat tertarik untuk meneliti keragaman hayati di Indonesia, secara garis besar Wallace membagi keaneka ragaman hayati di Indonesia menjadi tiga yaitu tipe Australis, Oriental dan Peralihan.

Dari penelitian Wallace tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Indonesia merupakn negara yang mempunyai keanekaragaman wilayah yang masing-masing mempunyai potensi besar untuk di kembangkan. Kondisi strategis ini harus dimanfaatkan secara optimal demi pengembangan PBKL, refleksi dari PBKL diharapkan putera daerah mampu mengolah keunggulan-keunggulan yang ada di daerahmya, sehingga mampu membuka lapangan kerja dan mendongkrak perekonomian ditingkat logistik. Gamblangnya masing-masaing deaerah mampu mengeksploitasi hasil sumber daya alamnya sendiri.

Lebih-lebih kondisi ekonomi kita yang masih kritis sejak tahun 1998. Belum lagi anomali rupiah terhadap dolar. Akhir-akhir ini Indonesia dikejutkan dengan kebijakan pemerintah untuk menurunkan harga BBM, padahal harga minyak dunia masih melambung tinggi, kita dibenturkan dengan kondisi dilema, apakah benar turunnya harga BBM merupakan prestasi duet kepemerintahan SBY dan MJK atau bahkan itu adalah propaganda mereka agar sukses kembali dipemilu 2009 mendatang.

Krisis akut yang melanda Indonesia seakan menjadi syndrome bagi bangsa kita. Dulunya banyak pemberontakan yang dilakukan di berbagai daerah untuk lepas dari kedaulatan NKRI, seperti GAM dan OPM. Sejak pemerintahan SBY  gerakan-gerakan tersebut dapat ditekan dengan adanya otonomi daerah. Sehingga masyarakat Indonesia berlomba-lomba untuk mengembangkan daerahnya dan tidak lagi berfikiran untuk memberontak.

Program PBKL dapat dijadikan tangga untuk meraih sukses dalam mengembangkan potensi daerah. Menurut hemat saya, PBKL adalah formula mengembangkan kemampuan putra daerah dalam mengelola produk daerahnya.

Salah satu contoh PBKL sebagaimana yang diterapkan di SMA Nurul Jadid, komplek yang dekat dengan pesisir memberi peluang bagi sekolah ini untuk mendayagunakan hasil laut.

Diharapkan hasil laut tersebut dapat diolah agar memiliki daya tarik dan nilai ekonomis tinggi. Kita mungkin bertanya-tanya bagaimana kondisi di SMA Nurul Jadid? Apakah kurikulum PBKL sudah sesuai dengan yang dicanangkan. Ikuti berita selanjutnya tentang perkembangan PBKL di SMANJ di website kita(fat).

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.