Menjunjung PBKL

 

Sekolah kita, SMANJ@, adalah salah satu sekolah bonafit, yang mungkin mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Bisa dilihat, kurikulum yang diterapkan di SMANJ@ adalah kurikulum PBKL (Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal). Bisa dibayangkan dari sekian ribu sekolah yang tersebar di seluruh Nusantrara hanya 60 sekolah yang mendapatkan kurikulum PBKL, termasuk SMANJ@. Sangat luar biasa! kurikulum berbasis keunggulan lokal sudah lama diterapkan dinegara maju, Australia misalnya. Diharapkan dengan memberian PBKL kepada daerah yang memang memiliki potensi secara geologis dapat mengeksploitasi keunggulan yang ada di daerahnya.

Misalnya, lembaga pendidikan yang terletak di daerah pegunungan, maka diberikanlah pendidikan yang terkait dengan pengolahan hasil pertanian, begitu pula lembaga pendidikan yang berdampingan dengan laut, diterapkan pendidikan yang berhubungan dengan pengolahan hasil laut secara maksimal dan mempunyai nilai ekonomis tinggi.

Sangat rasional jika pemerintah menerapkan PBKL pada sekolah-sekolah tertentu, mengingat Indonesia mempunyai ragam kebudayaan dan daerah yang secara geologis sangat bermacam-macam.

Dibanding dengan Australia, kita lebih diunggulkan dalam pengembangan PBKL. Tidak lain adalah faktor geologis masing-masing daerah yang berbeda. Sehingga ilmuan botani Jerman, A.R Wallace, sempat tertarik untuk meneliti keragaman hayati di Indonesia, secara garis besar Wallace membagi keaneka ragaman hayati di Indonesia menjadi tiga yaitu tipe Australis, Oriental dan Peralihan.

Dari penelitian Wallace tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Indonesia merupakn negara yang mempunyai keanekaragaman wilayah yang masing-masing mempunyai potensi besar untuk di kembangkan. Kondisi strategis ini harus dimanfaatkan secara optimal demi pengembangan PBKL, refleksi dari PBKL diharapkan putera daerah mampu mengolah keunggulan-keunggulan yang ada di daerahmya, sehingga mampu membuka lapangan kerja dan mendongkrak perekonomian ditingkat logistik. Gamblangnya masing-masaing deaerah mampu mengeksploitasi hasil sumber daya alamnya sendiri.

Lebih-lebih kondisi ekonomi kita yang masih kritis sejak tahun 1998. Belum lagi anomali rupiah terhadap dolar. Akhir-akhir ini Indonesia dikejutkan dengan kebijakan pemerintah untuk menurunkan harga BBM, padahal harga minyak dunia masih melambung tinggi, kita dibenturkan dengan kondisi dilema, apakah benar turunnya harga BBM merupakan prestasi duet kepemerintahan SBY dan MJK atau bahkan itu adalah propaganda mereka agar sukses kembali dipemilu 2009 mendatang.

Krisis akut yang melanda Indonesia seakan menjadi syndrome bagi bangsa kita. Dulunya banyak pemberontakan yang dilakukan di berbagai daerah untuk lepas dari kedaulatan NKRI, seperti GAM dan OPM. Sejak pemerintahan SBY  gerakan-gerakan tersebut dapat ditekan dengan adanya otonomi daerah. Sehingga masyarakat Indonesia berlomba-lomba untuk mengembangkan daerahnya dan tidak lagi berfikiran untuk memberontak.

Program PBKL dapat dijadikan tangga untuk meraih sukses dalam mengembangkan potensi daerah. Menurut hemat saya, PBKL adalah formula mengembangkan kemampuan putra daerah dalam mengelola produk daerahnya.

Salah satu contoh PBKL sebagaimana yang diterapkan di SMA Nurul Jadid, komplek yang dekat dengan pesisir memberi peluang bagi sekolah ini untuk mendayagunakan hasil laut.

Diharapkan hasil laut tersebut dapat diolah agar memiliki daya tarik dan nilai ekonomis tinggi. Kita mungkin bertanya-tanya bagaimana kondisi di SMA Nurul Jadid? Apakah kurikulum PBKL sudah sesuai dengan yang dicanangkan. Ikuti berita selanjutnya tentang perkembangan PBKL di SMANJ di website kita(fat).