Tidak salah jika peserta didik yang mencontek hasil ujian temannya disebut cikal-bakal koruptor, hal ini dipermudah dengan model soal multiple choice, mungukin saja siswa atau mahasiswa mendapatkan nilai yang baik dengan hanya satu kali melirik sudah mendapatkan jawaban lebih dari satu jawaban, soal pilihan ganda mempermudah para pencontek untuk mendapatkan jawaban.
Disamping itu banyak pelajar yang sebenarnya mampu dalam mata pelajaran tersebut sering kecolongan karena pilihan jawabanya yang hampir sama, secara sustansi pilihan jawaban hanya ada dua yaitu salah dan benar, dengan perbandingan empat banding satu, keempat opsinya salah semua hanya satu jawaban yang benar. Tidak jarang kelima-limanya jawabanya adalah benar , hanya diperintah untuk mencari jawaban yang paling benar.
Ada beberapa kelemahan pada soal pilihan ganda, pertama, ujian dengan menggunakan soal pilihan ganda tidak mampu mengukur kreatifitas pelajar dalam menjawab soal, padahal masing-masing siswa mempunyai daya kreatifitas yang berbeda, dengan demikian kreatifitas siswa tidak lagi menjadi pertimbangan guru untuk menaikan nilai ujian.
Kedua, soal pilahan ganda tidak bisa memberikan gambaran bahwa siswa tersebut mempunyai nalar yang tinggi atau tidak, siswa yang mempunyai penalaran yang baik akan mampu menjawab soal segamblang mungkin dengan akurasi jawaban yang tepat, sedangkan siswa yang tidak mampu dalam penalaaran akan menjawab apa adanya,
Sebetulnya masih banyak kekurangan penerapan soal multiple choise, namun gambaran diatas bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk beralih kepada soal urayan, atau kita masih berkutat pada postulat soal yang jelas-jelas tidak bisa dijadikan barometer penilaian.
Soal dengan jawaban urayan lebih menjanjikan dan mengena sasaran, hanya karena mungkin pera guru melas mengoreksi jawaban yang berbentuk essay.